Silahkan Baca Artikel Dibawah Ini

Senin, 02 Mei 2011

Arti Persahabatan


Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang
melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan,

tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi

membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman

suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan,
didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan

untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan

ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha

pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi
mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih
dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan

sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Walaupun Tuhan tidak mempersatukan kita dalam ikatan cinta,
Tapi bolehkah aku menjadi sahabatmu?
Walaupun aku bukanlah teman baikmu, tapi kau adalah
satu-satunya teman baikku…. Selamanya…

»»  READMORE...

Selasa, 26 April 2011

Ada Apa Dibalik Pernikahan?


Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki, pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, diantaranya ada yang agak sinis, yang lain merasa keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek saja.
Mereka yang menyepelekan nikah, bilang "Apa tidak ada alternatif yang lain selain nikah ?", atau "Apa untungnya nikah?".
Bagi yang merasa berat pun berkomentar "Kalau sudah nikah, kita akan terikat alias tidak bebas", semakna dengan itu "Nikah ! Jelasnya bikin repot, apalagi kalau sudah punya anak".
Yang lumayan banyak 'penggemarnya' adalah yang mengatakan "Saya pingin meniti karier terlebih dahulu, nikah bagi saya itu gampang kok".
Terakhir, para orang tua pun turut memberi nasihat untuk anak-anaknya "Kamu nggak usah buru-buru menikah, cari duit dulu yang banyak".
Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang 'enggan' nikah, ternyata angka perzinaan atau 'kecelakaan" semakin meninggi ! Itu beberapa pandangan orang tentang pernikahan. Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti itu. Sebagai seorang muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai dengan kaca mata islam. Apa yang dikatakan baik oleh syariat kita, pastinya baik bagi kita. Sebaliknya, bila islam bilang sesuatu itu jelek pasti jelek bagi kita. Karena pembuat syariat, yaitu Allah adalah yang menciptakan kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita.
Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat kita sehingga timbul berbagai komentar seperti di atas, tak lepas dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan seseorang tentang tujuan nikah itu sendiri.
Nikah di dalam pandangan islam, memiliki kedudukan yang begitu agung. Ia bahkan merupakan sunnah (ajaran) para nabi dan rasul, seperti firman Allah :
"dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan" (QS Ar-ra'd : 38)
Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di dalam ajaran islam memiliki beberapa tujuan yang mulia, diantaranya :
  • Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi saja, namun tujuan dari adanya kelangsungan generasi tersebut adalah tetap tegaknya generasi yang akan membela syariat Allah, meninggikan dienul islam , memakmurkan alam dan memperbaiki bumi.
  • Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, sekaligus menjaga kesucian diri.
  • Mewujudkan maksud pernikahan yang lain, seperti menciptakann ketenangan, ketenteraman. Kita bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan laki-laki dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan, sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna.
Pernikahan pun menjadi sebab kayanya seseorang, dan terangkatnya kemiskinannya. Nikah juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada kehidupan yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan pemenuhan kebutuhan biologis dengan jalan yang disyariatkan oleh Allah. Sebuah pernikahan, mewujudkan kesempurnaan kedua belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari sebuah pernikahan adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan kasih sayang.
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (QS Ar Ruum : 21)
Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh Islam. Tentu saja tak keluar dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah kepada Allah.

»»  READMORE...

Minggu, 17 April 2011

Penyesalan Seorang Facebooker

Menengok sejenak ke belakang, bercermin kembali dengan merenungi apa yang telah kulakukan, maka aku hanya bisa menghela nafas panjang tak banyak yang dapat kubanggakan dari goresan hidup masa laluku. Bercak noda hitamku di masa silam saat aku duduk di bangku SMU sungguh tak dapat kulupakan. Hingga kini masih terngiang-ngiang dalam benak pikiranku berbagai beban dosa dan kesalahan berat saat aku ketika itu memposisikan diri sebagai informan misionaris.
Tentang profesiku sebagai intel Katolik ini pada mulanya tak banyak orang tahu, termasuk keluargaku, kecuali ibu. Beliau sangat menyesalkan sikap nekadku menyebrangi keyakinan menyimpang. Akupun tak tahu dan tak mengerti dengan diriku. Kenapa aku sampai terbawa arus pemurtadan kaum sesat itu. Mungkin, karena aku salah bergaul dan memilih teman.
Kucoba untuk mengingat-ingat kembali lembaran kusam silamku. Ya, aku masih ingat bahwa Mall sebagai pusat nongkrong anak muda  adalah tempat rekrutmen awalku menjelajahi dunia Nasrani yang kelam. Jumlah siswa-siswi Muslim yang menjadi rekrutmen Kristen begitu banyak. Dalam sebulan bisa mencapai lima puluhan, meski akhirnya disaring mencapai dua puluhan orang, atas pertimbangan,  rekrutmen misionaris harus berasal dari keluarga fanatik. Tujuannya, demi memuluskan niatan busuk mereka dalam mengelabui massa islam lainnya. Kebetulan, aku dipandang keluarga fanatik. Sedang almarhum kekekku juga adalah seorang kiai dan tokoh agamis yang karismatik.
Begitu pandainya kaum misionaris membidik dunia anak muda sebagai terobosan aksi pemurtadan. Apa yang sedang digandrungi kawula muda, seperti ajang gaul, dunia seni, budaya dan sebagainya dimanfaatkan dan dijadikan celah oleh mereka untuk menggaet rekrutmen sebanyak-banyaknya. Tak heran kalau akhirnya mereka mendirikan banyak LSM yang peduli dengan hobi dan kreasi anak-anak muda. Merekapun sangat risfek dan peduli dengan berbagai masalah dan persoalan para remaja yang broken home, stress, dan kurang mendapatkan kasih sayang orangtua. Tentu saja perangkap mereka disambut dengan tangan terbuka oleh para remaja labil ini. Tapi biasanya untuk criteria anak-anak remaja semacam ini hanya diarahkan untuk menjadi korban pemurtadan.
Aku sadar bahwa sejak kelas satu SMU aku tak lagi Muslimah. Sebab, mereka telah membaptisku. Kala itu kurasakan, jiwaku terlepas dan terhempas. Nilai ruhiahku tak lagi bersemayam dalam hati dan kepribadianku. Aku benar-bena telah menjadi seorang yang murtad dari agama yang lurus ini. Pertemuan rutin seminggu dua kali tanpa kusadari telah mendokrinku dan memperkuat keyakinanku yang tak lagi islami.
Aku telah terbawa arus begitu jauh, Kafa’ah (potensi) ku dalam hal lobi-melobi setiap kepala sekolah, benar-benar dimanfaatkan pihak misionaris katolik. Kedudukan ayahku meski tidak tinggi di Depdikbud memperlancar proses down yang kulakukan terhadap setiap kepala sekolah di SMU Jakarta. Setan tertawa terbahak saat aku berhasil meloloskan sekolah SMU di Jakarta. Aku tak tahu persis sudah berapa banyak rekan-rekan remaja muslim yang telah kuhantarkan ke jurang akidah sesat. Sebab tugasku selama ini hanya sebatas informan dan pelobi awal. Tugas selanjtunya, yaitu memasukan program-program pemurtadan ditindaklanjuti oleh para misionaris katolik. Yang sangat riil kurasakan di sekolahku adalah pihak katolik telah berhasil mengondisikan sekolahku membiasakan doa bersama dengan pola cara yang tak lagi islami.
Tugasku sebagai informan tidak berhenti sampai di situ. Pembinaku yang biasa dipanggil oleh rekan-rekanku sesama informan dengan sebutan”Father” mengarahkanku untuk selalu menyadap berita dan informasi penting tentang pergerakan islam yang makin marak di sekolah-sekolah umum. Tugasku adalah mencatat, sudah sejauh mana perkembangan gerak para aktivis muslim di sekolah-sekolah. Aku juga sempat menginformasikan kepada mereka tentang pola cara penyebaran fikrah ala kaum muslimin di beberapa sekolah SMU.
Tentu saja misionaris merasa senang dengan keluguanku yang seperti kerbau dicocok hidungnya. Pasrah diapakan saja oleh mereka. Meski aku berangkat dari keluarga berada dan mampu membiayaiku dan pendidikanku, tapi mereka para misionaris itu memberikan uang atas jasaku sebagai informan mereka.
Informasi demi informasi kuberikan setiap hari kepada mereka, dari hal terkecil sampai yang terbesar. Upaya gigihku ini semakin menumbuhkan kepercayaan mereka terhadap diriku. Sejak itu aku ditawarkan subsidi untuk biaya pendidikanku. Kata mereka, aku berhak disekolahkan mereka setinggi-tingginya, asalkan aku selalu siap diarahkan mereka.
Apa yang kulakukan selama ini akhirnya tercium oleh ibuku. Beliau sangat terkejut ketika mengetahui status agamaku yang sebenarnya dan posisiku sebagai informan katolik. Dengan penuh kasih sayang dan sekuat tenaga ia berupaya menyadarkan aku. Tapi akidahku tak bergeming sama sekali. Kala itu aku tetap berpegang teguh sebagai seorang kristiani. Sampai akhirnya, ibuku merasa letih sendiri karena kehabisan akal untuk menasehatiku. Beliau adalah ibu terbaik sepanjang hidupku. Meski antara ibu dan anak beda akidah, beliau tetap baik terhadapku dan memperlakukan aku sebagai anak kesayangannya. Dengan linangan  air mata,ia menyuruhku untuk berhijrah ke tempat saudaraku agar statusku sebagai penganut Kristen katolik tidak diketahui ayah dan saudara-saudaraku. Hingga kini mereka memang tidak mengetahui status agamaku itu.
Aku menuruti kehendak ibu yang menginginkan aku tak serumah lagi dengannya. Aku jauh dari ibu. Sepanjang itu aku tak tahu kalau ibu ternyata begitu perhatian sekali terhadap nasibku di dunia dan akhirat. Dia sangat mengkhawatirkan aku dan tak rela kalau aku masuk neraka. Siang malam ibu berdoa agar Allah berkenan membukakan hidayah-Nya kembali untukku.
Sebelum aku murtad kurasakan berbagai sentuhan nasihatnya yang begitu sejuk menyentuh kalbu ini. Aku masih ingat saat-saat indah bersama ibu ketika beliau mengajariku membaca al-Qur’an. Kebetulan, selain sebagai ibu rumah tangga, di luar rumah beliau berprofesi sebagai guru agama di SLTP.
Terakhir kudengar kabar bahwa ibuku jatuh sakit. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMU. Akupun menjenguknya. Tapi ibu memalingkan wajahnya saat sakitnya makin parah. Ia memerintahkan saudaraku untuk menyuruhku keluar dari ruangan tidurnya. Aku tak lagi diperkenankan untuk melihat wajah kecintanku. Melihat perlakuan ibu demiikian, aku tidak merasa sakit hati. Aku sadar kalau diriku selama ini telah mengcewakan ibu dan keluarga.
Sakaratul maut menjelang ibu. Belum lagi aku sempat bergegas pergi dari pintu rumahku, ibu dipanggil ke haribaan Allah sang Rabbul Izzati. Beliau telah meninggalkanku dengan membawa pengharapan besar, yaitu perkenaan Allah atas kembalinya kesadaranku pada akidah yang lurus (Islam).
Sepeninggal ibu aku selalu murung dan merenung panjang. Aku mencoba menggunakan daya nalarku yang sempit ini untuk berpikir dan bermuhasabah tentang hakikat hidup ini. Akhirnya lewat renungan panjang selama kurang lebih setahun sepeninggalan ibunda, Allah mengembalikan kesadaranku untuk kembali ke pangkuan Islam. Kala itu aku sudah memulai kuliahku di salah satu Universitas Negeri.
Aku bersyukur kepada Allah mendapatkan tempat kuliah yang sangat kondusif. Lingkungan kampus yang islami ini telah menyentakkan ingatan dan kesadaranku terhadap kesalahanku selama ini. Di kampus begitu banyak aktivis muslim dan muslimah. Sikap dan perilaku mereka menampakkan kecerdasan emosional. Intelektual, dan spiritual. Baru kusadar, ternyata Islamlah yang membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi muslim yang tangguh.
Terbersit dalam hatiku rasa iri terhadap mereka. Hatiku mengatakan, betapa sakinahnya bila aku menjadi aktivis muslimah yang kuat akidahnya. Mungkin nantinya bila aku seperti mereka, pemahamanku tentang islam tak lagi keliru.
Akhirnya tekat hati untuk bergabung dengan mereka semakin kuat. Alhamdulillah, Allah memudahkan langkahku menuju pintu hidayah, kehadiranku ke Islam disambut gembira oleh rekan-rekan aktivis muslim di kampus.
Aku meminta perlindungan kepada mereka. Sebab sejak keislamanku kembali, kaum misionaris itu tidak begitu saja membiarkanku keluar dari komunitas mereka. Beberapa kali aku diancam. Tentang Perihal terror tersebut kuadukan kepada ketua aktivis kampus. Alhamdulillah, ia dan rekan-rekanku siap mensupport dan membelaku bila ada pihak-pihak misionaris yang berani berbuat macam-macam terhadapku. Sejak itu, kehidupanku kembali normal bahkan bertambah nilai kekuatan imanku.
Waktu berputar mengelilingi kedewasaanku dalam menyikapi ajaran agama islam. Aku merasa jauh lebih baik saat aku berislam atas dasar kemauan hatiku sendiri, bukan karena factor keturunan. Pencarianku terhadap hidayah tidak sia-sia. Ada hikmah besar yang dapat kupetik, ternyata setelah aku membedakan antara islam dan agama lain, kudapati islam jauh lebih unggul. Kebenaran mutlak ada pada islam.
Diusiaku yang ke duapuluh empat tahun ini, ayahku meminta untuk segera memasuki jenjang rumah tangga. Teringat dengan ibu yang kala itu aku tak sempat berbakti sebagai anak shalihah karena status agamaku yang berbeda, maka aku tak ingin kekecewaan ibu itu terulang kembali kepada ayah. Aku bertekad akan memperkuat hubungan birrul walidain. Untuk itu dengan penuh kerendahan dan keikhlasan hati, kuturuti permintaan ayahandaku.
Namun aku dihadapkan oleh kendala. Setiap aku melakukan ta’aruf dengan calon suamiku yang rata-rata adalah aktivis Islam, aku seperti didamparkan. Mereka menolakku ketika mereka tahu tentang latar belakangku. Mereka masih meragukan keislamanku. Bahkan diantara rekan-rekanku ada yang mensinyalir bahwa kekuatan Kristen katolik itu masih bersemayam dalam tubuh dan hatiku dengan perantara jin kafir. Kemudian mereka menyarankan aku untuk diruqyah. Beberapa kali aku diruqyah oleh salah seorang ustad, bahkan sampai dibekam segala.
Kupahami bahwa ini adalah bagian dari ujian Allah swt. Aku percaya bahwa Allah takkan membiarkanku sengsara karena tak sanggup menanggung fitnahan sebagai infitran katolik yang menyusup ke dalam salah satu pergerakan islam. Aku yakin, kelak Dia akan menampakkan bahwa kebenaran itu adalah hak dan kebatilan itu adalah batil. Akhirnya, aku bersimpuh kepada Allah swt, memohon ampunan atas segala kesalahanku di masa silam. Sungguh aku menyesal telah memurtadkan banyak orang.
»»  READMORE...

Sabtu, 16 April 2011

Fakta Dibalik Alkohol


Dalam Islam, tak semua minuman dapat dikonsumsi. Hal ini bahkan telah dinyatakan dalam kitab suci Alquran bahwa sesuatu yang merusak, baik minuman maupun makanan, tergolong sebagai zat yang haram. Alkohol, termasuk di dalamnya. Makanan atau minuman apapun yang dibuat dengan beralkohol hukumnya adalah haram.

Bila dalam bentuk minuman, tentu tak susah membedakannya. Yang agak repot, adalah alkohol yang dicampurkan sebagai bahan untuk membuat suatu makanan. Misalnya dalam roti, kecap, atau cuka.

Bila alkohol yang dihasilkan dari reaksi alami antara sejumlah zat selama proses pembuatan, tak dapat dikatakan haram. Lain cerita kalau alkohol sengaja dicampurkan.

Sejumlah obat dan cairan mouthwashes juga beralkohol. Pada umumnya, keduanya dapat dikatakan halal untuk sejumlah alasan. Meski demikian, umat Islam mestinya dapat menemukan alterantif dan menggunakannya sebagai pengganti keduanya.


Penyebab kerusakan

Pelarangan alkohol dalam Islam bukannya tanpa alasan. Rasulullah Muhammad menyatakan bahwa alkohol menyebabkan kerusakan bagi manusia maka baik banyak maupun sedikit kadarnya maka tetap dilarang untuk dikonsumsi.

Muhammad pun melarang penggunaan alkohol meski dengan dalih sebagai obat. Ada ungkapan terkenal dari Muhammad bahwa alkohol bukanlah obat melainkan racun. Tak hanya secara teologis alkohol itu dilarang tetapi juga telah terbukti secara ilmiah bahwa alkohol berdampak negatif.

Terkait dengan haramnya alkohol, pada masa Muhammad ada seorang laki-laki dari Yaman bertanya kepada Muhammad tentang minuman yang terbuat dari padi-padian yang sering disebut mizr. Lalu nabi balik bertanya apakah minuman itu merusak.

Pada saat orang itu membenarkannya nabi melarang meminumnya. Nabi menyatakan bahwa setiap yang merusak maka dilarang. Allah, kata Nabi, akan memberikan bagi mereka yang mengonsumsi minuman yang merusak dengan tinat al-khabal, yaitu keringat para penghuni neraka.

Wa'il al-Hadrami menyatakan bahwa Tariq bin Suwaid bertanya kepada Nabi Muhammad, tentang arak dan nabi melarangnya. Ketika Thariq menyatakan bahwa ia hanya membuatnya untuk obat maka Nabi menjawab kembali bahwa alkohol bukanlah obat melainkan penyakit.

Dalam hadis Tirmidi, Abu Daud dan Ibn Majah, Jabir menyatakan bahwa Nabi Muhammad menegaskan banyaknya jumlah sesuatu yang menyebabkan kerusakan maka sedikitnya pun akan dilarang.

Di negara-negara Barat, di mana alkohol telah karib dalam kehidupan keseharian mereka, ternyata alkohol menjadi penyebab berbagai masalah. Di AS, misalnya, alkohol merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas dan keretakan rumah tangga.

Pada 1996 terdapat 17.126 orang meninggal dunia karena kecelakaan. Data statistik pemerintah AS yang menunjukkan bahwa terdapat 3.732 pengemudi yang kadar alkohol di dalam darahnya di bawah 10 persen. Meski ada pula studi yang menyatakan alkohol pun memberikan manfaat.

Bila seseorang mengonsumsi alkohol dalam kadar yang tak tinggi, sepadan dengan 2-3 gelas alkohol, justru akan bermanfaat bagi kesehatan jantung. Namun studi ini kemudian dibantah oleh studi lainnya yang menegaskan bahwa alkohol tak menguntungkan bagi tubuh.

Di antaranya, studi tersebut mengungkapkan bahwa laki-laki yang gemar mengonsumsi alkohol akan menyebabkan kecacatan bagi bayi yang dikandung istrinya. Pernyataan ini kemudian dikuatkan oleh studi yang dilakukan di Jerman selama sepuluh tahun.

Bayi-bayi yang lahir dengan fetal alcohol syndrome akan menderita kerusakan otak jangka panjang. Dr Hans-Ludwig Sophr, seorang pediatrik dari Rumah Sakit Rittberg, Berlin, menyatakan sindrom alkohol menyerang satu hingga dua bayi dalam setiap 1.000 kelahiran di seluruh dunia.

''Akibat sindroma ini, bayi yang lahir memiliki kepala dengan ukuran yang kecil, pertumbuhan tubuh yang terhambat demikian pula dengan pertumbuhan mentalnya,''katanya. Para dokter sendiri tidak secara pasti mengetahui kadar alkohol yang menyebabkan kerusakan pada mereka.

Ia menyatakan bahwa penelitian dilakukan atas 36 anak laki-laki dan 24 perempuan dengan sindroma alkohol antara 1977-1979. Para dokter melakukan pengujian berdasarkan kerusakan fisik dan neurologi tak lama setelah kehiran dan sepuluh tahun setelah itu.

Dalam sebuah siaran berita pada 8 Juni 1991 di ABC News dilaporkan, sebuah studi yang dilakukan para dokter di Chicago, menyatakan bahwa laki-laki yang mengonsumsi alkohol akan mengakibatkan kecacatan bagi bayinya ketika bayi itu lahir. Studi ini dilakukan dalam rentang waktu 12 tahun. Oleh karenanya para dokter itu menyarankan agar laki-laki tak mengonsumsi alkohol selama 2-3 bulan sebelum terjadinya konsepsi.

Ada pula studi yang dilakukan oleh American Medical Association (AMA) pada 1988. Mereka menemukan fakta bahwa terdapat 100 ribu kematian dan dana berjumlah 85,8 miliar dolar AS yang terkait dengan rehabilitasi penyalahgunaan alkohol. Dan sekitar 25 hingga 40 persen kamar di rumah sakit diisi oleh mereka yang mengalami komplikasi akibat keranjingan alkohol.

Untuk mengurangi dampak negatif dari hal ini, banyak negara yang menetapkan batas usia bagi mereka untuk mengonsumsi alkohol. Mereka yang telah berusia 21 tahun diizinkan mengonsumi minuman haram tersebut. Hanya mereka yang lebih tua boleh mengonsumsi alkohol. Komunitas Muslim sudah tentu tak terlalu direpotkan dengan urusan ini. By Mas Bara....

»»  READMORE...

Si Stuck Dan Unstuck

Yang Mana Anda: si Stuck atau si Unstuck?

Hidup di rantau penuh dengan tantangan. Kebanyakan
mitos yang terdengar adalah kemampuan bahasa yang sangat
menentukan  keberhasilan seseorang. Dengan perkataan lain,
apabila kemampuan bahasa seseorang di perantau kurang memadai, maka
kemungkinan besar seseorang tidak akan berhasil. Benarkah demikian?

Jawabannya: tidak benar.

Walaupun penting, kemampuan berbahasa dalam bahasa
setempat (seperti Bahasa Inggris di Amerika Serikat, Britania Raya dan
Australia) tentu akan menunjang keberhasilan dalam membukakan
pintu peluang, namun kemampuan mengartikulasikan pikiran dalam
bentuk komunikasi yang dapat diterima dalam kultur setempatlah yang
sebenarnya jauh lebih penting. Juga sikap kerja (attitude) yang
etislah yang sangat menentukan keberhasilan seseorang di tanah rantau.

Selama hampir sepuluh tahun di perantauan, tepatnya
di Amerika Serikat, saya telah merasakan sendiri dan melihat
dengan mata kepala dan mata hati sendiri bahwa bentuk komunikasi yang
paling mengena bukanlah dengan menggunakan grammar dan choices of
words yang sempurna, melainkan dengan kemampuan mengekspresikan
pikiran dan perasaan dengan cara yang seefisien mungkin dalam
bentuk komunikasi verbal dan non-verbal. Ini bisa dilihat dari
pendatang-pendatang baru yang kemampuan berbahasanya --walaupun
kedengaran cukup lancar di telinga perantauan saya-- masih kurang
sempurna di telinga penduduk setempat.

Ada beberapa sesama teman seperantauan yang sangat
cepat melesat karirnya. Sebaliknya ada pula yang totally stuck di
satu titik saja selama bertahun-tahun, bahkan masih sering nebeng
pula dengan teman-temannya yang unstuck. Lantas, sebenarnya apa yang
membedakan mereka? Bukankah mereka sama-sama dari Indonesia dan
(kebanyakan) mempunyai latar belakang kehidupan masa lalu yang
mirip pula?

Untuk mempermudah deskripsi saya di bawah, mari kita sebut saja
mereka yang cepat melesat karirnya sebagai si "Unstuck" dan mereka
yang jalan di tempat si "Stuck."

Si "Unstuck," biasanya mempunyai kemampuan
berkomunikasi yang universal (selalu menjaga etika, banyak mendengarkan
dan percaya diri tanpa perlu menjatuhkan orang lain) attitude yang
berbeda
dibandingkan dengan si "Stuck." Bagi si Unstuck, tantangan adalah
sumber gairah dan energy yang sangat berharga. Dalam kata lain,
dengan kesulitan --termasuk kesulitan dalam berkomunikasi-- ia
menemukan makna hidup. Dengan demikian, ia membuka
pintu-pintu keberhasilan baginya di masa depan (di tingkat
"etheral," dalam bahasa New Age-nya).

Bagi si Stuck, tantangan adalah sesuatu yang ingin dihindarkan
setiap saat. Saya ingat betapa ada seorang teman yang selalu
mengeluh baik ketika tidak mendapatkan pekerjaan, sedang mencari
pekerjaan dan bahkan ketika sudah diterima kerja.
Keluhannya walaupun hanya untuk hal-hal kecil saja, namun bagi
si Unstuck, ini adalah salah satu bentuk "invitation" bagi kegagalan.

Coba saja bayangkan. Si Stuck ini sering mengeluh betapa "kejam"nya
bosnya di tempat kerja, maka ketika suatu hari kehadirannya di
tempat kerja sangat diperlukan, ia bilang, "Mereka lagi mau pindahan
kantor, mendingan gua tidak masuk kerja saja, supaya mereka tahu
rasa kekurangan orang." Wah, dengan mengeluh kepada si Unstuck,
sebenarnya si Stuck ini sudah membuka pintu kegagalan.

Maksudnya apa? Well, siapa sebenarnya yang mau mempekerjakan
seseorang yang tidak etis (tidak profesional)? Ingatlah bahwa "what
you say says a lot about you" (apa yang Anda katakan kepada orang
lain sebenarnya mencerminkan siapa Anda).

Kalau saja pihak yang mempekerjakan si Stuck ini sampai mendengar
perkataannya, bukankah pintu promosi sudah langsung tertutup
baginya? Belum lagi kalau si Unstuck temannya itu mempunyai potensi
untuk mempekerjakan si Stuck. Bukankah ini adalah promosi buruk (bad
personal branding) bagi si Stuck?

Ada lagi beberapa perbedaan antara si "Stuck" dan si "Unstuck".

Stuck: Senang meminta. Senang menerima yang gratis-gratis tanpa
merasa obligated untuk membalas budi.

Unstuck: Senang memberi. Tidak senang menerima barang-barang gratis
(ingat there is no free lunch, semuanya mesti dibayar baik sekarang
maupun nanti --bukankah lebih baik sekarang?).
Kalaupun diberi sesuatu, ia selalu membalas budi baik orang lain
dengan segera.

Stuck: Berpikir dengan perasaan dan merasa dengan pikiran. Sering
mengalami konflik antara pikiran dan perbuatan,sehingga apa yang
dikomunikasikan mempunyai "logical fallacy."

Unstuck: Berpikir dengan pikiran dan merasa dengan perasaan. Paralel
dan tidak ada konflik antara pikiran dan perbuatan.
Dalam istilah Ilmu Logika, perbuatan-perbuatannya adalah perbuatan
yang sahih.

Stuck: Mengikuti tren (misalnya senang mendengarkan pendapat orang
lain, menjadi "pengikut" pendapat orang lain).

Unstuck: Menciptakan tren (tidak memperdulikan omongan negatif orang
lain, sepanjang apa yang diincar adalah halal dan bisa membantu
orang banyak baik secara langsung maupun tidak langsung).

Stuck: Tidak berani menghadapi tantangan baru (lebih baik "stuck" di
satu tempat daripada mengubah diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan
baru yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik).

Unstuck: Senang menghadapi tantangan baru, bahkan selalu mencari-
carinya di setiap kesempatan.

Stuck: Senang memerangi masalah saat itu juga karena merasa egonya
tertantang.

Unstuck: Memilih masalah yang harus diperangi (choose your battle)
dan mana yang harus dilepaskan karena tidak worth it dari segi
spending tenaga dan pikiran.

Stuck: Sering menyalahkan orang lain (blaming) dan mengeluh
(whining). Bahkan ada orang selalu mengeluh sehingga ia tidak bisa
lagi melihat berkat (blessing) di depan matanya.

Unstuck: Tidak menyalahkan siapa-siapa. What already happened,
happened. Yang penting adalah solving the problem, bukan blaming dan
whining.

Stuck: Tidak pernah double checking pendapat orang lain. Dalam kata
lain, percaya saja kepada gosip secara penuh, tanpa mendengarkan
dari pihak lain yang terlibat.

Unstuck: Selalu double checking dan tidak langsung mempercayai gosip
atau isyu-isyu yang beredar.

Stuck: Lebih memusatkan kepada kemampuan berbahasa, bukan komunikasi
efisien dan kemampuan adaptasi kultural.

Unstuck: Memusatkan kepada kemampuan berkomunikasi efisien dan
adaptasi kultural, bukan yang dapat diukur oleh grammar dan mekanisa
bahasa.

Stuck: Biasanya tidak berani mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya
(ada unsur "merahasiakan" asal-usul dan beberapa hal lainnya yang
semestinya bukanlah rahasia).

Unstuck: Terbuka dan transparan dalam bertindak.
Berani untuk diaudit oleh siapapun karena kebenaran akan selalu
berada di pihaknya.

Oke, sekarang kalau Anda merantau, kira-kira yang mana Anda?
»»  READMORE...

Jumat, 15 April 2011

Action Is Power

Sebuah pepatah klasik berbunyi: jien li she ie ik puu : artikanya perjalanan seribu mil dimulai dengan langlah pertama. Pesan moral dari kata kata mutiara pendek ini adalah tindakan. Memang benar tindakan adalah kekuatan! Action is power!

Kita mungkin punya sebongkah impian indah, segudang rencana, setumpuk ide cemerlang, tetapi semua itu tidak akan menghasilkan apapun, jika kita tidak berani memulai dengan langkah pertama.

Hal ini mengingatkan saya pada cir-ciri manusia yang menurut saya ada empat tipe tentang teori dan praktek.

Tipe pertama, yaitu orang yang tidak punya teori sekaligus tidak praktek.
Orang seperti ini tidak memiliki semangat dan tidak mau belajar. Kehidupannya tanpa tujuan, tanpa gairah. Hidup hanya dijalani ala kadarnya. Inilah pilihan orang–orang gagal. Mungkin tipe ini menjadi bagian terbesar dari sebuah masyarakat yang tertinggal.

Tipe kedua, orang yang punya teori tetapi tidak praktek. Inilah tipe orang yang senang mengumpulkan serta menyerap berbagai macam teori. Namun sayang, segudang teori yang dimilikinya, tidak mampu dipraktekan dengan tindakan nyata. Jadi, yang ada hanya teori kosong alias NATO, No Action Theori Only!

Tipe ketiga, yaitu orang yang tidak punya teori tetapi mampu praktek. Mampu menjalankan seperti yang diteorikan orang lain. Inilah tipe orang yang berorientasi pada tindakan, mau belajar dari pengalaman, teori, maupun kebijaksanaan orang lain. Tipe orang ketiga ini mungkin pada awal melangkah akan mengalami berbagai macam gangguan, kesulitan, bahkan kegagalan. Namun dia menyadari semua itu harus dihadapi sebagai pembelajaran dan pematangan mental. Di sinilah letak para otodidak sejati yang belajar melalui keberanian tindakan.

Tipe keempat, orang yang punya teori sekaligus mampu memprakteknya. Sudah pasti tipe ini adalah orang yang mantap dan matang mentalnya, karena tertempa oleh banyaknya problem kehidupan yang mampu dikendalikan dan diatasi. Inilah tipe orang sukses yang paling ideal. Tipe orang yang optimis, punya visi, sekaligus berani melangkah.

Ingin menjadi type yang manakah Anda? Semua pilihan tergantung di tangan Anda. Life is not theory. Life is action! Hidup bukanlah teori. Hidup adalah aksi! Sing tung ciu she lik liang! Action is power! Tindakan adalah kekuatan !!!

Sekali lagi jien li she ie ie puu. Seribu langkah dimulai dengan langkah pertama.
»»  READMORE...